MBG di Papua Menghadirkan Gizi Berkualitas dan Kesejahteraan Masyarakat
MBG di Papua Menghadirkan Gizi Berkualitas dan Kesejahteraan Masyarakat
Oleh : Samuel Rumbiak
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua semakin menunjukkan perannya sebagai kebijakan strategis yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Kehadiran program ini tidak hanya memastikan anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita memperoleh asupan gizi yang lebih baik, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini. Di berbagai kabupaten, pelaksanaan MBG mulai memberikan dampak positif terhadap kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat fondasi lahirnya generasi Papua yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Komitmen pemerintah untuk memastikan manfaat MBG dirasakan hingga ke seluruh wilayah Papua terus diperkuat melalui berbagai langkah konkret. Dalam kunjungannya ke Kabupaten Asmat, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa pemerintah terus memperjuangkan pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Pelaksanaan MBG di Asmat, menurutnya, dapat diperkuat melalui kolaborasi dengan gereja-gereja setempat dan kantin sekolah agar pelayanan semakin dekat dengan masyarakat. Pendekatan tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah menghadirkan kebijakan yang adaptif sekaligus melibatkan berbagai elemen lokal agar manfaat program dapat menjangkau lebih banyak penerima.
Komitmen tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah. Bupati Asmat Thomas E. Safanpo menilai masyarakat merasakan manfaat besar dari pelaksanaan MBG, terutama bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Peningkatan kehadiran siswa di sekolah setelah program berjalan menjadi indikator bahwa MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mendorong semangat belajar peserta didik. Sementara itu, pemberian makanan bergizi kepada ibu hamil dan ibu menyusui diyakini akan memperkuat upaya percepatan penurunan stunting sehingga kualitas kesehatan generasi masa depan Papua semakin baik.
Keberhasilan MBG di Papua juga terlihat dari kemampuannya menghubungkan program peningkatan gizi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selama ini, petani, peternak, dan nelayan membutuhkan kepastian pasar agar hasil produksinya dapat terserap secara berkelanjutan. Kehadiran MBG memberikan ruang yang sangat besar bagi produk pangan lokal untuk menjadi bagian dari kebutuhan dapur-dapur penyedia makanan bergizi. Model seperti ini memperlihatkan bahwa belanja pemerintah tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Papua Matius D. Fakhiri yang mengarahkan agar kebutuhan bahan pangan untuk MBG dipenuhi melalui hasil produksi masyarakat Papua. Menurutnya, petani di setiap kabupaten harus menjadi pemasok utama sehingga perputaran ekonomi tetap berada di daerah. Kebijakan tersebut merupakan langkah strategis karena memberikan kepastian pasar bagi hasil pertanian lokal sekaligus mendorong peningkatan produksi pangan. Ketika kebutuhan sekolah dipenuhi dari hasil panen masyarakat sendiri, manfaat program akan dirasakan lebih luas oleh keluarga petani dan pelaku usaha pangan di Papua.
Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa MBG memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar program pemenuhan gizi. Pemerintah berhasil mengintegrasikan kebijakan kesehatan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu ekosistem pembangunan yang saling menguatkan. Dengan semakin besarnya kebutuhan bahan baku lokal, berbagai sektor usaha di Papua memperoleh peluang untuk berkembang secara berkelanjutan sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas gizi generasi muda.
Potensi besar Papua di sektor perikanan juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menilai pemanfaatan ikan sebagai menu utama makanan bergizi merupakan langkah yang tepat karena sejalan dengan karakteristik masyarakat Papua yang memiliki sumber daya perikanan melimpah. Pemanfaatan ikan lokal tidak hanya meningkatkan kualitas asupan protein bagi peserta didik, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan. Dorongan untuk membiasakan anak-anak mengonsumsi ikan sejak dini sekaligus memperkuat upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas.
Kebijakan tersebut membuktikan bahwa MBG mampu menjadi penghubung antara potensi daerah dengan kebutuhan masyarakat. Ketika hasil tangkapan nelayan terserap oleh program pemerintah, manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh keluarga nelayan, sementara anak-anak memperoleh makanan bergizi dengan kandungan protein yang tinggi. Pola ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Dampak positif MBG semakin nyata terlihat di Kabupaten Nabire. Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Nabire Marsel Asyerem menjelaskan bahwa operasional 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi telah menyerap 658 tenaga kerja, termasuk 180 Orang Asli Papua. Kehadiran program tersebut tidak hanya membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi miliaran rupiah setiap bulan melalui pembayaran upah kepada para pekerja. Seluruh tenaga kerja yang terlibat juga memperoleh perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan sehingga memberikan kepastian dan rasa aman dalam bekerja.
Keberhasilan awal yang telah ditunjukkan di Asmat, Keerom, Nabire, dan berbagai wilayah lainnya menjadi bukti bahwa MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan investasi pemerintah untuk membangun Papua dari manusia, ekonomi, dan kesejahteraannya secara bersamaan. Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat, MBG akan semakin memperkuat lahirnya generasi Papua yang sehat, unggul, dan produktif sekaligus mendorong terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan di Bumi Cenderawasih.
)* penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua
