Upaya Pemerintah Perkuat Ekonomi Nasional Hadapi Tantangan Global

Upaya Pemerintah Perkuat Ekonomi Nasional Hadapi Tantangan Global

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang meningkat, mulai dari konflik geopolitik, kenaikan harga energi, hingga gangguan rantai pasok. Meski demikian, berbagai indikator menunjukkan ekonomi Indonesia tetap stabil, terlihat dari sektor manufaktur yang masih ekspansif, inflasi yang terkendali, serta kinerja perdagangan yang surplus.

 

 

 

 

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih bertahan di zona ekspansi pada Maret 2026 meski tekanan global berlanjut. Permintaan domestik yang kuat dan kinerja mitra dagang yang terjaga menjadi penopang utama..

 

 

 

 

“Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga, meskipun dihadapkan pada kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global,” ujar Febrio.

 

 

 

 

Dari sisi global, sejumlah negara mitra seperti Vietnam, Filipina, Thailand, India, dan Amerika Serikat juga masih mencatatkan ekspansi manufaktur. Bahkan, kawasan Eropa mulai menunjukkan pemulihan, sehingga membuka peluang bagi peningkatan ekspor Indonesia.

 

 

 

 

Sementara itu, aktivitas ekonomi domestik menunjukkan tren positif. Indeks Penjualan Riil Februari 2026 tumbuh 6,9 persen secara tahunan, didorong konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Penjualan mobil meningkat 12,2 persen, diikuti pertumbuhan sektor lain seperti semen dan konsumsi listrik. Indeks Keyakinan Konsumen juga tetap tinggi di level 125,2, mencerminkan optimisme masyarakat.

 

 

 

 

Inflasi tetap terkendali di angka 3,5 persen secara tahunan pada Maret 2026. Pemerintah menjaga stabilitas harga melalui berbagai kebijakan seperti operasi pasar, bantuan pangan, dan pengawasan distribusi.

 

 

 

 

Dari sektor eksternal, neraca perdagangan mencatat surplus hingga 1,27 miliar dolar AS, melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut. Ekspor didorong komoditas unggulan seperti besi baja dan minyak nabati, sementara impor bahan baku menunjukkan aktivitas industri yang tetap kuat.

 

 

 

 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian ini sebagai bukti ketahanan industri nasional.

 

 

 

 

“Di tengah tekanan global dan domestik, sektor manufaktur Indonesia masih ekspansif, ini patut diapresiasi,” ujar Agus.

 

 

 

 

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat kebijakan strategis, termasuk perbaikan iklim investasi, kemandirian energi, dan transformasi digital.

 

 

 

 

“Kami akan memastikan industri tetap adaptif dan kompetitif karena manufaktur merupakan tulang punggung ekonomi nasional,” tegas Agus.