Mengapresiasi Langkah Danantara Perkuat Ekosistem Industri Nasional
Mengapresiasi Langkah Danantara Perkuat Ekosistem Industri Nasional
Oleh : Michelle Putri Santoso
Berbagai apresiasi terus mengemuka terhadap langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Kehadiran Danantara sebagai lembaga pengelola investasi strategis dinilai menjadi titik penting dalam upaya membangun industri nasional yang terintegrasi, mandiri, dan berdaya saing global. Langkah ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga diyakini membawa efek berantai terhadap dunia pendidikan tinggi, riset, serta pengembangan inovasi nasional.
Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, menilai Danantara memiliki peran krusial dalam mengorkestrasi lahirnya ekosistem industri baru di Tanah Air. Hal tersebut ia sampaikan saat ditemui dalam kegiatan Public and Business Leader Forum: 2026 Outlook & Challenges yang berlangsung di Jakarta. Menurutnya, kemajuan industri akan secara otomatis mendorong kemajuan perguruan tinggi sebagai pusat inovasi dan penghasil sumber daya manusia unggul. Danantara diharapkan jadi salah satu pendorong untuk munculnya inovasi dan industrialisasi baru. Ketika pendanaan kuat untuk industrialisasi baru, maka perguruan tinggi punya kesempatan melakukan hilirisasi.
Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga geopolitik global. Diharapkan forum tersebut mampu menghasilkan pandangan komprehensif serta melahirkan seperangkat usulan kebijakan atau policy brief yang dapat menjadi rujukan pemerintah dan pelaku usaha dalam menghadapi dinamika global.
Selama forum berlangsung, para panelis membahas isu-isu strategis seperti ketahanan ekonomi nasional, transformasi energi, penguatan manajemen kebencanaan, serta peran institusi publik dalam menciptakan pemerintahan yang adaptif. Mengingat Indonesia merupakan negara rawan bencana, diskusi juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap potensi bencana. Melalui forum ini, UB menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis negara dan dunia usaha dalam menghadirkan kontribusi nyata melalui riset, inovasi, dan dialog kebijakan yang konstruktif.
Selama ini perguruan tinggi di Indonesia memiliki banyak peneliti, pakar, dan hasil riset yang potensial. Namun, proses hilirisasi kerap menemui kendala karena belum tersedianya wadah yang kuat dan berkelanjutan. Akibatnya, banyak inovasi berhenti di tahap penelitian dan tidak berkembang menjadi produk industri bernilai tambah tinggi. Ekosistem industri yang maju juga akan berdampak langsung pada sistem pendidikan tinggi.
Pertumbuhan industri akan memacu perguruan tinggi untuk menyusun kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri masa depan. Para dosen mendidik sarjana sudah sangat bagus, tapi ketika sudah lulus tidak mudah mencari pekerjaan di bidang masing-masing. Karena ekosistem industri di Indonesia belum berkembang. Kalau industrinya tumbuh, ekosistem otomatis akan berjalan juga. Widodo menegaskan bahwa Danantara harus mampu menjadi pemecah mata rantai permasalahan industrialisasi nasional. Maka Danantara harus jadi pemecah mata rantai yang selama ini menyebabkan kita tidak mandiri di industri. Ia meyakini, dengan konsolidasi aset negara dan pengelolaan investasi yang terarah, Danantara dapat menjadi katalis lahirnya industri-industri baru berbasis inovasi dalam negeri.
Apresiasi terhadap Danantara juga tercermin dari penghargaan yang berhasil diraih. BPI Danantara mendapatkan penghargaan kategori SOE Transformation and Strategic Investment Reinvention dalam ajang CNBC Indonesia Awarding Night 2025. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Chief Operating Officer (COO) BP Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan tersebut. Menurutnya Ini komitmen luar biasa. Dengan penghargaan ini belum apa-apa, tapi komitmen di Danantara sangat kuat untuk melakukan perubahan fundamental dalam pengelolaan BUMN. Perubahan ini terlihat dari sisi tata kelola dan pengelolaan bisnis BUMN. Ke depannya, BUMN bisa memberi kontribusi lebih besar. Banyak perubahan di sisi governance dan pengelolaan bisnis yang nanti akan disaksikan seluruh Indonesia.
Saat ini, Danantara merencanakan sedikitnya 18 proyek hilirisasi strategis di berbagai daerah dengan nilai investasi ratusan triliun rupiah. Proyek tersebut mencakup industri smelter aluminium berbasis bauksit di Kalimantan Barat, pengembangan DME batu bara di sejumlah wilayah, industri aspal di Sulawesi Tenggara, mangan sulfat di NTT, stainless steel berbasis nikel di Morowali, hingga industri tembaga, besi baja, oleoresin, oleofood, kelapa, perikanan, rumput laut, kilang minyak, tangki penyimpanan minyak, modul surya terintegrasi, dan bioavtur.
Sejalan dengan langkah Danantara, pemerintah juga terus menegaskan pentingnya hilirisasi sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani menegaskan bahwa hilirisasi sumber daya alam menjadi strategi utama untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Ia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan mampu tumbuh di kisaran 5 persen di tengah tekanan global. Rosan juga mencatat, sepanjang Januari hingga September 2025, sektor hilir berhasil menarik investasi sebesar Rp431 triliun atau lebih dari 30 persen total investasi nasional, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 58,1 persen.
Dengan berbagai langkah tersebut, Danantara semakin diapresiasi sebagai motor penggerak transformasi industri nasional. Sinergi antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan perguruan tinggi diyakini akan memperkuat ekosistem industri yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk melompat menuju negara industri maju.
)* Pengamat Ekonomi
