MBG Bentuk Tanggung Jawab Negara Atas Gizi Bangsa

MBG Bentuk Tanggung Jawab Negara Atas Gizi Bangsa

Oleh: Citra Kurnia Khudori

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan populis, melainkan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin hak dasar warga atas gizi yang layak. Di tengah tantangan stunting, ketimpangan akses pangan, dan kualitas sumber daya manusia, MBG menjadi fondasi penting pembangunan jangka panjang bangsa.

 

 

 

 

Pemenuhan gizi yang merata adalah investasi sosial yang dampaknya melampaui sektor kesehatan, menyentuh pendidikan, produktivitas, hingga daya saing nasional. Karena itu, MBG patut dipandang sebagai bentuk tanggung jawab konstitusional negara dalam menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

 

 

 

 

Pemerataan dalam penerimaan manfaat program MBG dibuktikan dengan masifnya jumlah penerima. Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, mengungkapkan capaian besar program MBG telah menjangkau 60 juta penerima manfaat per Februari 2026.

 

 

 

 

Presiden Prabowo juga menargetkan penerima manfaat akan meningkat signifikan menjadi 82 juta penerima pada Desember 2026. Dengan jumlah tersebut ia optimistis kualitas gizi anak bangsa semakin membaik.

 

 

 

 

Selain berdampak pada peningkatan status gizi masyarakat, MBG memberikan efek berganda terhadap perekonomian, khususnya di tingkat desa. Prabowo menambahkan, dari program MBG sudah dibuka sebanyak 22.275 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jika setiap SPPG mempekerjakan 50 orang, maka telah terbuka lebih dari 1 juta lapangan kerjaan baru di Indonesia.

 

 

 

 

Apabila target 82 juta penerima tercapai di akhir tahun, program ini berpotensi menciptakan tiga hingga lima juta lapangan kerja. Presiden Prabowo menegaskan, kebutuhan rakyat menjadi salah satu fokus utama pemerintah.

 

 

 

 

Besarnya skala program MBG justru menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjawab persoalan gizi secara sistemik dan menyeluruh. Dengan perencanaan bertahap serta penguatan tata kelola yang terus dievaluasi, pemerintah menegaskan komitmennya agar program ini berjalan efektif, berkualitas, dan berkelanjutan. Sebagai kebijakan strategis nasional, MBG juga mencerminkan keberanian pemerintah mengambil langkah besar yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas.

 

 

 

 

Pamor MBG tak hanya moncer di tingkat nasional. Negeri Paman Sam pun diklaim Presiden Prabowo mempelajari program tersebut melalui Rockefeller Institute. Ia mengatakan, Rockefeller Institute menilai MBG sebagai investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh suatu negara.

 

 

 

 

Presiden Prabowo juga terkejut ketika Menteri Kesehatan Amerika Serikat (AS) Robert F. Kennedy Jr ingin bertemu dengannya untuk berdiskusi tentang keberhasilan MBG. Program tersebut dinilai mampu memberikan dampak ekonomi berlipat ganda.

 

 

 

 

Tak hanya fokus menambah jumlah penerima, pemerintah juga melakukan evaluasi dan perbaikan sistem distribusi agar kualitas, keamanan, dan ketepatan sasaran tetap terjaga di seluruh wilayah. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pelaksanaan program pemenuhan gizi nasional tetap mengutamakan kualitas dan keamanan, meskipun target capaian terus dikejar.

 

 

 

 

Untuk meningkatkan mutu layanan, BGN akan segera membentuk tim akreditasi dan sertifikasi pada tahun 2026. Langkah ini bertujuan memastikan seluruh SPPG memiliki standar kualifikasi yang baik dan aman.

 

 

 

 

BGN juga akan melakukan sistem gradasi terhadap SPPG berdasarkan kualitas layanan, mulai dari kategori unggul dengan nilai A, sangat baik dengan nilai B, hingga baik dengan nilai C. Selain itu, terdapat kemungkinan sejumlah SPPG perlu melakukan perbaikan serius agar dapat terus melanjutkan kegiatannya.

 

 

 

 

BGN menargetkan sepanjang tahun 2026 fokus utama program gizi nasional adalah peningkatan kualitas layanan, keamanan pangan, serta penguatan literasi gizi masyarakat secara berkelanjutan.

 

 

 

 

Selain peningkatan kualitas layanan, program MBG ke depan juga akan diperkuat dengan edukasi gizi kepada penerima manfaat. Edukasi tersebut mencakup pemahaman dalam memilih makanan sehat, sehingga intervensi tidak hanya bersifat pemenuhan gizi jangka pendek.

 

Keberhasilan MBG sejauh ini juga didukung oleh sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga pelaku usaha lokal. Tanpa kolaborasi yang solid, potensi besar program ini sulit dimaksimalkan secara merata di seluruh wilayah.

 

Lebih dari sekadar program bantuan, MBG perlu diposisikan sebagai strategi pembangunan manusia yang terintegrasi dengan kebijakan pendidikan, kesehatan, dan ketahanan pangan. Dengan pendekatan tersebut, negara tidak hanya memberi makan, tetapi juga membangun kesadaran gizi yang berjangka panjang.

 

Tantangan implementasi tentu tidak ringan, mulai dari distribusi, pengawasan mutu, hingga adaptasi di wilayah terpencil. Namun, tantangan itu justru menjadi ujian komitmen negara dalam menjamin hak dasar rakyatnya secara adil dan berkelanjutan.

 

Pada akhirnya, MBG adalah cerminan tanggung jawab negara dalam menyiapkan masa depan bangsa yang lebih sehat dan berdaya saing. Ketika gizi ditempatkan sebagai prioritas nasional, maka investasi terbesar sesungguhnya sedang diarahkan pada kualitas manusia Indonesia itu sendiri.

 

 

 

 

)* Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi