Optimisme terhadap Rupiah Ditopang Fundamental Ekonomi yang Kuat

Oleh : Rivka Mayangsari

Kondisi perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang kuat di tengah tekanan eksternal dan dinamika pasar keuangan global. Sejumlah indikator makroekonomi, mulai dari neraca perdagangan hingga stabilitas harga, menunjukkan perkembangan yang relatif positif. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional, termasuk dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah. Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat hingga November 2026. Menurutnya, kekuatan fundamental ekonomi dapat dilihat melalui sejumlah indikator makroekonomi yang mencerminkan kesehatan dan daya tahan perekonomian nasional. Indikator tersebut mencakup kinerja perdagangan, perkembangan ekspor, inflasi, serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Capaian positif pada sejumlah sektor tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional adalah kinerja neraca perdagangan. Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Surplus perdagangan tersebut menunjukkan bahwa kinerja ekspor nasional masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian. Kemampuan mempertahankan surplus di tengah perubahan permintaan global menjadi salah satu penopang ketahanan sektor eksternal Indonesia. Kondisi ini juga memperlihatkan pentingnya menjaga daya saing produk dalam negeri, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat sektor industri agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Dengan demikian, kinerja perdagangan dapat terus mendukung aktivitas ekonomi serta memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika perdagangan internasional.

Selain neraca perdagangan, perkembangan ekspor nasional turut menjadi perhatian pemerintah. Airlangga menyebut kinerja ekspor Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif. Peningkatan ekspor berperan dalam memperkuat penerimaan devisa dan mendukung aktivitas sektor produksi di dalam negeri. Ketika permintaan terhadap produk nasional tetap terjaga, kegiatan industri dan rantai pasok juga berpeluang berkembang.

Dari sisi stabilitas harga, pemerintah juga mencermati perkembangan inflasi sebagai salah satu indikator penting daya tahan ekonomi. Airlangga menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), serta 0,22 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 2,4 persen. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi harga barang dan jasa yang terus dipantau pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pengendalian inflasi memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas perekonomian dan kepercayaan masyarakat. Kenaikan harga yang terkendali dapat membantu rumah tangga mengelola pengeluaran, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana produksi dan investasi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga kelancaran distribusi barang, ketersediaan pasokan, serta koordinasi pengendalian harga di tingkat pusat dan daerah. Langkah tersebut penting agar tekanan harga tidak berkembang menjadi beban yang lebih besar bagi masyarakat.

Di tengah indikator ekonomi yang relatif positif, nilai tukar rupiah tetap menghadapi tekanan akibat perkembangan pasar keuangan global. Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi pasar. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.

Destry menerangkan bahwa pergerakan rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan. Nilai tukar terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran valuta asing serta dipengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi. Perubahan kebijakan moneter negara maju, perkembangan geopolitik, dan perubahan arus modal internasional juga dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang. BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Menurut Destry, stabilitas nilai tukar merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan iklim perekonomian yang kondusif.

Upaya menjaga stabilitas nilai tukar tentunya berkaitan dengan keberlangsungan sektor riil. Dunia usaha membutuhkan kondisi ekonomi yang relatif stabil untuk mempertahankan produksi, memperluas kegiatan usaha, dan membuka lapangan pekerjaan. Oleh sebab itu, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan. Pemerintah juga perlu melanjutkan penguatan sektor produktif agar sumber pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada konsumsi, tetapi turut ditopang investasi, industri, dan ekspor.

Berbagai indikator tersebut memberikan gambaran bahwa perekonomian Indonesia memiliki sejumlah penopang untuk menghadapi tekanan eksternal. Surplus perdagangan, pertumbuhan ekspor, serta perkembangan inflasi menjadi faktor yang diperhatikan dalam menilai ketahanan ekonomi nasional. Meski demikian, kewaspadaan terhadap dinamika global dan pergerakan pasar keuangan tetap diperlukan. Konsistensi kebijakan, penguatan fundamental ekonomi, dan koordinasi antarlembaga diharapkan dapat menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan sektor riil. Dengan fondasi ekonomi yang terus diperkuat, optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia dapat dipertahankan di tengah ketidakpastian global.

*) Pemerhati ekonomi