Sumpah Pemuda: Perkuat Sinergi Pemerintah – Generasi Muda serta Waspadai Provokasi

Oleh: Bagus Sucipto

Semangat Sumpah Pemuda perlu dihidupkan melalui pendidikan, karya, dan keberanian menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi. Pemerintah memiliki tanggung jawab memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang, sementara pemuda perlu mengambil peran dalam pembangunan sekaligus mewaspadai provokasi yang memecah kebersamaan. Peringatan setiap 28 Oktober menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja bersama tersebut agar cita-cita membangun generasi unggul benar-benar terwujud.

Tantangan pemuda hari ini semakin kompleks. Perubahan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan persaingan global menuntut kemampuan beradaptasi serta kreativitas. Pada saat bersamaan, informasi menyesatkan dan hasutan dapat mengalihkan energi pemuda dari kegiatan produktif. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi muda memperoleh pendidikan berkualitas, keterampilan relevan, dan ruang partisipasi yang sehat.

Karena itu, pembangunan kepemudaan harus menjadi investasi jangka panjang. Pemerintah perlu memastikan bahwa kesempatan berkembang tidak ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarga maupun tempat tinggal. Perluasan akses pendidikan, peningkatan keterampilan, serta pemberdayaan masyarakat menjadi fondasi agar pemuda memiliki bekal untuk mandiri dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Salah satu langkah yang mendapat perhatian ialah rencana pemerintah menyiapkan pendidikan gratis di perguruan tinggi negeri. Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan jajarannya mempercepat persiapan kebijakan tersebut dengan memperhatikan tahapan pelaksanaan dan kemampuan fiskal. Rencana ini patut didukung melalui pembahasan yang matang agar perluasan kesempatan belajar dapat diwujudkan secara berkelanjutan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa pemerintah telah mengkaji berbagai komponen pembiayaan perguruan tinggi, termasuk uang kuliah tunggal, iuran pengembangan institusi, dan sumber pendapatan lainnya. Pembahasan lintas kementerian juga disiapkan untuk menghasilkan perhitungan serta tahapan implementasi yang matang. Perencanaan tersebut diperlukan agar kebijakan memiliki dasar pembiayaan yang jelas.

Bagi generasi muda, pendidikan yang terjangkau membuka peluang untuk menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, dan menciptakan inovasi. Namun, perluasan akses harus disertai kualitas pembelajaran serta dukungan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan. Aspirasi pemuda mengenai biaya, fasilitas, dan kesempatan belajar perlu didengar sebagai bahan penyempurnaan kebijakan pemerintah.

Di luar pendidikan formal, pemuda membutuhkan ruang aktualisasi dalam kehidupan masyarakat. Organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna dapat menjadi tempat belajar memimpin, mengembangkan kreativitas, membangun usaha, dan memperkuat kepedulian sosial. Keterlibatan dalam kegiatan lingkungan juga memungkinkan pemuda memahami persoalan masyarakat secara langsung sekaligus ikut mencari penyelesaiannya.

Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menekankan pentingnya penguatan Karang Taruna sebagai wadah pemberdayaan pemuda dan mitra pemerintah dalam pembangunan, terutama di desa dan kelurahan. Menurut dia, pemerintah daerah perlu mengakomodasi program kepemudaan dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran. Dukungan tersebut diperlukan agar pemberdayaan pemuda berjalan terarah dan berkelanjutan.

Penguatan organisasi kepemudaan harus menghasilkan kegiatan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Pemuda dapat membantu pemasaran produk lokal, mengembangkan usaha mikro, memperkenalkan teknologi pertanian, serta menggerakkan ekonomi kreatif. Pelatihan, pendampingan, dan akses permodalan dari pemerintah akan lebih berarti apabila disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi masing-masing daerah.

Arah tersebut sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama penguatan sumber daya manusia, pendidikan, sains, teknologi, kesehatan, olahraga, dan peran pemuda. Pelaksanaannya membutuhkan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Pemuda di perdesaan maupun wilayah dengan keterbatasan layanan perlu memperoleh perhatian yang setara.

Di tengah upaya itu, semangat persatuan perlu terus dirawat. Pemuda harus mewaspadai provokasi yang menggunakan informasi palsu, potongan pernyataan tanpa konteks, atau sentimen identitas untuk membangkitkan permusuhan. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, dan menahan diri sebelum membagikan kabar merupakan tindakan sederhana yang membantu menjaga ruang publik tetap sehat.

Kewaspadaan terhadap provokasi tetap perlu berjalan bersama penghormatan terhadap kebebasan berpendapat. Kritik atas kebijakan merupakan bagian dari partisipasi warga dan dapat membantu pemerintah mengenali kekurangan pelaksanaan program. Pemuda perlu menyampaikan aspirasi berdasarkan fakta, menghindari hasutan kekerasan, serta menjaga penyampaiannya tetap damai. Pemerintah pun perlu menjawab substansi kritik secara terbuka.

Karang Taruna, organisasi mahasiswa, dan komunitas pemuda dapat mengambil peran melalui diskusi, pendidikan literasi digital, serta kegiatan sosial lintas kelompok. Ruang perjumpaan semacam ini membantu perbedaan pandangan dibicarakan secara wajar. Semangat Sumpah Pemuda akan lebih terasa ketika keberagaman menjadi kekuatan untuk bekerja bersama dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Keberhasilan pembangunan pemuda pada akhirnya harus diukur melalui hasil nyata. Pendidikan perlu meningkatkan kompetensi, pelatihan harus membuka peluang kerja, dan dukungan usaha perlu membantu pemuda memperoleh penghasilan berkelanjutan. Evaluasi berkala dengan melibatkan penerima manfaat penting agar pemerintah mengetahui hambatan di lapangan sekaligus memperbaiki program yang belum menjawab kebutuhan.

Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa masa depan Indonesia memerlukan generasi yang terdidik, mandiri, dan mampu menjaga persatuan. Komitmen pemerintah memperluas kesempatan perlu disambut dengan karya, partisipasi, dan pengawasan yang konstruktif. Dengan mewaspadai provokasi serta merawat dialog, energi pemuda dapat diarahkan untuk memperkuat pembangunan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

)* Penulis merupakan Aktivis Kepemudaan