Pemerintah Perkuat Ekosistem Media Digital Nasional Hadapi Perang Algoritma AI
Pemerintah Perkuat Ekosistem Media Digital Nasional Hadapi Perang Algoritma AI
JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat ekosistem media digital nasional sebagai langkah menghadapi tantangan baru di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi arus informasi dan pembentukan opini publik. Di tengah dominasi algoritma platform digital, pemerintah menilai keberadaan media arus utama yang mengedepankan akurasi, verifikasi, dan etika jurnalistik menjadi kunci menjaga kualitas informasi sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan persaingan di ruang digital saat ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan kecepatan penyebaran informasi, tetapi juga menyangkut pembentukan persepsi publik melalui algoritma yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna.
“Di tengah dominasi algoritma platform dan kemajuan kecerdasan artifisial yang mampu menghasilkan konten secara instan, jurnalisme profesional tetap berperan sebagai penjaga fakta dan kepercayaan publik. Karena itu, media arus utama harus memperkuat fungsi jurnalistik dengan mengedepankan akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas,” ujar Nezar.
Menurutnya, derasnya banjir konten digital justru menjadi momentum bagi jurnalisme profesional untuk kembali merebut perhatian publik. Ia menilai media memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan ketika masyarakat dihadapkan pada sistem algoritma yang lebih mengutamakan atensi dibandingkan kualitas informasi.
Nezar juga mengingatkan bahwa perkembangan AI menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi industri media. Kemunculan teknologi seperti deepfake berpotensi mempercepat penyebaran disinformasi dan membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara fakta dan manipulasi digital.
Senada dengan itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa perkembangan AI juga membawa tantangan terhadap tradisi keilmuan yang selama ini menjadi fondasi pendidikan Islam di Indonesia.
Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) Masduki Baidlowi menegaskan sistem sanad ilmu dan hubungan guru-murid tidak boleh tergerus oleh dominasi algoritma digital.
“Saat ini kita menghadapi fenomena perang algoritma,” katanya.
Masduki juga menjelaskan bahwa perkembangan AI kini telah memasuki tahap AI agen yang tidak hanya mampu menghasilkan teks maupun visual, tetapi juga dapat merencanakan, berdiskusi, hingga mengeksekusi berbagai keputusan secara rinci. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi cara masyarakat memperoleh pengetahuan apabila tidak disertai kemampuan berpikir kritis.
Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan menilai penguatan media profesional, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI yang bertanggung jawab menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem informasi nasional yang sehat, tangguh, dan mampu menghadapi dinamika perang algoritma di era digital. (*)
