Program Ekonomi Hijau Pemerintah, Dapat Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja Baru
Program Ekonomi Hijau Pemerintah, Dapat Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja Baru
Program ekonomi hijau di Indonesia diproyeksikan mampu menciptakan hingga 4,4 juta green jobs di berbagai sektor. Transformasi ini bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja yang layak sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Pemerintahan telah mengintegrasikan komitmen ini dalam dokumen perencanaan strategis nasional, termasuk menyediakan tenaga kerja hijau.
Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat mengatakan, kebutuhan terhadap profesi berbasis keberlanjutan lingkungan akan terus meningkat seiring percepatan transformasi ekonomi hijau di Indonesia.
Ia menyebut kebutuhan terhadap tenaga kerja di sektor hijau akan terus meningkat, mulai dari bidang energi terbarukan, pengelolaan sampah modern, rekayasa lingkungan, penelitian keanekaragaman hayati, perencanaan kota berkelanjutan, analis karbon, spesialis ekonomi sirkular, hingga kewirausahaan berbasis lingkungan.
“Transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan akan melahirkan jutaan lapangan pekerjaan baru. Namun kita juga harus memastikan bahwa green jobs tersebut merupakan pekerjaan yang layak, memberikan perlindungan tenaga kerja, kesejahteraan, dan kesempatan yang adil bagi masyarakat. Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau. Future jobs are green jobs,” tegasnya.
Lebih lanjut Jumhur menyampaikan, bahwa tingginya permintaan tenaga kerja berbasis lingkungan sejalan dengan Asta cita Presiden Prabowo yang menempatkan keberlanjutan ekologis sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Jumhur mengajak generasi muda mengambil peran sebagai agen perubahan dalam menjaga lingkungan hidup sekaligus mendukung transformasi ekonomi hijau.
“Gen Z adalah generasi solusi. Tugas kita sekarang adalah mengubah kepedulian itu menjadi aksi nyata.Dari sekadar awareness menjadi movement, dari kepedulian menjadi inovasi dan dari diskusi menjadi solusi,” katanya.
Namun, menurutnya, kepedulian tersebut harus diterjemahkan menjadi inovasi. Lalu kewirausahaan dan aksi nyata yang mampu memberikan dampak ekonomi maupun lingkungan.
Seiring berkembangnya ekonomi hijau, kebutuhan terhadap profesi berbasis keberlanjutan diperkirakan terus meningkat. Mulai dari ahli energi terbarukan, insinyur lingkungan, pengelola sampah modern, analis karbon, spesialis ekonomi sirkular, hingga wirausaha hijau.
Pemerintah juga menargetkan seluruh sampah nasional dapat terkelola pada 2029 melalui penguatan ekonomi sirkular dan modernisasi pengelolaan sampah. Berbagai teknologi seperti Refuse Derived Fuel (RDF), Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), terus didorong menciptakan nilai ekonomi.
“Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan usaha baru. Jika Indonesia mampu menjaga lingkungan serta membangun ekonomi sirkular yang kuat, maka bisa memberikan kontribusi bagi dunia,” ujarnya.
