Indonesia Gabung BOP, Bukti Kecerdasan Baca Arah Geopolitik Global
Indonesia Gabung BOP, Bukti Kecerdasan Baca Arah Geopolitik Global
Jakarta – Langkah Indonesia bergabung dan aktif dalam forum _Board of Peace_ (BoP) melalui pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington dinilai sebagai manuver strategis yang mencerminkan kecerdasan membaca arah geopolitik global.
Di tengah dinamika internasional yang cair dan penuh ketidakpastian, Indonesia tidak memilih bersikap pasif, melainkan mengambil inisiatif untuk mengamankan kepentingan nasional.
Pengamat Politik Agung Baskoro menilai, kecepatan membaca momentum menjadi pembeda Indonesia dibanding banyak negara lain. Dalam situasi ketika kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap sejumlah negara dipersoalkan, Indonesia dinilai telah lebih dulu mengamankan kesepakatan strategis yang berdampak langsung pada akses pasar.
“Di saat banyak negara masih berhitung dan menunggu, Indonesia memilih bergerak. Inilah yang disebut diplomasi menembus batas. Menembus batas kewajaran negara-negara lain,” ujar Agung.
Kesepakatan tarif 19 persen serta fasilitas tarif nol persen bagi 1.819 produk unggulan Indonesia, menurutnya, merupakan instrumen konkret untuk memperkuat daya saing ekspor nasional.
Kebijakan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi memperluas akses pasar dan menjaga stabilitas permintaan di tengah kompetisi global yang ketat.
“Relasi yang terjaga baik memberi kita posisi tawar yang lebih kuat. Ini bukan soal mendekat ke satu kekuatan besar, melainkan memastikan kepentingan ekonomi nasional terlindungi. Dalam dunia yang kompetitif, kecepatan dan ketepatan membaca momentum adalah kunci,” jelasnya.
Dalam forum BoP, posisi Indonesia juga dinilai menguat. Prabowo tercatat sebagai satu-satunya pemimpin yang menggelar pertemuan bilateral dengan Trump. Bahkan dalam pidatonya, Trump menyebut mengagumi Prabowo dan berkelakar tidak ingin melawannya, sebuah gestur yang dipandang memiliki makna tersendiri dalam diplomasi.
“Gestur semacam ini memang terdengar ringan, tetapi dalam diplomasi, simbol dan bahasa tubuh punya arti. Ada sinyal kedekatan personal yang bisa membuka ruang negosiasi lebih luas,” ungkap Agung.
Ia juga menegaskan capaian tersebut bukan sekadar pencitraan politik.
“Bukan sekadar pencitraan politik, melainkan kalkulasi untung-rugi yang jelas. Hasil akhirnya memberi ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperluas lapangan kerja,” ujarnya.
Manuver ini memperlihatkan Indonesia semakin percaya diri memposisikan diri sebagai kekuatan menengah yang aktif dan adaptif. Dengan memanfaatkan momentum global secara tepat, Indonesia menunjukkan kemampuannya membaca arah perubahan dan menerjemahkannya menjadi keuntungan strategis bagi kepentingan nasional. #
