Gerakan Pasar Murah, Instrumen Negara Menjaga Daya Beli Masyarakat

Gerakan Pasar Murah, Instrumen Negara Menjaga Daya Beli Masyarakat

Oleh: Yusuf Rinaldi

Dalam menghadapi dinamika pangan yang selalu berubah, Pemerintah semakin menunjukkan komitmennya dalam menjaga ketersediaan pangan yang terjangkau bagi masyarakat. Salah satu instrumen penting yang diluncurkan adalah Gerakan Pasar Murah (GPM). Gerakan ini bukan hanya sekadar aksi pasar, namun juga merupakan bagian dari strategi besar negara untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang momen-momen penting seperti bulan puasa Ramadan yang sering kali disertai lonjakan harga pangan.

 

Gerakan Pasar Murah yang digalakkan pemerintah terbukti menjadi alat yang efektif dalam mengendalikan harga pangan pokok yang terus mengalami fluktuasi. Dengan menyasar komoditas utama seperti beras, gula, minyak goreng, dan daging, GPM dirancang untuk memberikan solusi langsung bagi masyarakat yang terjebak dalam lonjakan harga. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan berbagai instansi terkait berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pasar murah yang menyediakan bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau daripada harga pasar pada umumnya.

 

Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menjelaskan bahwa pihaknya telah mempersiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan, yang salah satunya adalah dengan menggencarkan Gerakan Pangan Murah. Langkah-langkah ini dirancang untuk mengantisipasi lonjakan harga yang kerap terjadi menjelang bulan Ramadan, yang dapat menambah beban ekonomi masyarakat, terutama mereka yang berpendapatan rendah.

 

Berdasarkan pantauan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas yang sering mempengaruhi inflasi pangan pada bulan Ramadan antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Menyikapi hal tersebut, pemerintah melakukan pemantauan harga pasar secara rutin. Jika terdapat gejolak harga yang berpotensi memberatkan masyarakat, intervensi pasar dilakukan melalui program GPM yang dilaksanakan di berbagai daerah.

 

Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kemenko Pangan, Sugeng Harmono, menegaskan bahwa intervensi pasar dengan program GPM adalah langkah preventif untuk menstabilkan harga pangan. Pemerintah melakukan pemantauan harga pasar secara rutin. Jika harga pasar sudah mencapai level yang tinggi, intervensi akan dilakukan, salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah. Dengan adanya pasar murah, pemerintah dapat menjamin ketersediaan pangan dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat berpendapatan rendah.

 

Keberhasilan Gerakan Pangan Murah bukan hanya soal harga, tetapi juga soal memastikan akses pangan yang lebih merata. Pemerintah daerah memainkan peran kunci dalam memperkuat jaringan distribusi pangan. Di Kota Pangkalpinang, misalnya, Gerakan Pangan Murah yang digelar di depan kantor Dinas Pangan dan Pertanian, berhasil menarik minat masyarakat.

 

Stok beras stabilisasi pangan dan harga pasar (SPHP) sebanyak 2 ton habis terjual dalam waktu hanya dua jam. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut sangat dibutuhkan masyarakat, terutama mereka yang kesulitan mendapatkan bahan pangan dengan harga wajar. Gerakan ini juga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan sosial yang muncul akibat perbedaan daya beli di berbagai lapisan masyarakat.

 

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kerjasama antar daerah. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengidentifikasi potensi surplus dan defisit pangan melalui neraca pangan wilayah dan memperkuat cadangan pangan lokal. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan mengendalikan inflasi pangan. Dengan koordinasi yang solid, diharapkan ketahanan pangan di seluruh wilayah dapat lebih terjamin.

 

Tidak hanya berfokus pada GPM, program lain seperti pengembangan kios pangan juga menjadi strategi penting dalam menjaga stabilitas harga pangan. Kios pangan ini bertujuan untuk menyediakan pangan murah di wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan distribusi, sehingga masyarakat tidak perlu menempuh jarak jauh untuk memperoleh bahan pangan dengan harga wajar.

 

Gerakan Pasar Murah ini jelas menjadi instrumen yang penting bagi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Melalui GPM, pemerintah tidak hanya berperan sebagai pengawas pasar, tetapi juga sebagai penyedia solusi yang langsung dirasakan oleh masyarakat. Dengan harga pangan yang terjangkau, masyarakat tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan lebih mudah, tetapi juga terhindar dari potensi krisis ekonomi akibat lonjakan inflasi yang dapat terjadi pada momen-momen tertentu, seperti menjelang Ramadan.

 

Pemerintah juga menyadari bahwa keberhasilan Gerakan Pangan Murah ini memerlukan dukungan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga sektor swasta. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk memperkuat kerjasama antara berbagai pihak terus dilakukan. Hal ini penting agar setiap kebijakan yang diambil dapat diimplementasikan dengan efektif di lapangan.

 

Secara keseluruhan, Gerakan Pasar Murah menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan yang terencana dan terintegrasi. Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks, keberadaan GPM menjadi salah satu instrumen utama yang membantu masyarakat untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian harga pangan.

 

)*Penulis merupakan Pengamat Ekonomi